Selasa, 22 Maret 2011

Analisis BEP depot AMIU

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Pada saat ini, banyak perusahaan-perusahaan baik besar maupun kecil, yang berskala nasional maupun internasional bermunculan. Tentunya hal tersebut merupakan pertanda positif yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian nasional. Namun pada kenyataannya tidak bisa dipungkiri, beberapa perusahaan terutama perusahaan-perusahaan kecil gulung tikar yang salah satu penyebabnya dikarenakan biaya-biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.
Secara umum perusahaan memiliki tujuan untuk memperoleh laba baik jangka panjang maupun jangka pendek. Dalam mencapai tujuan tersebut perusahaan mempunyai alat yaitu manajemen. Berhasil atau tidaknya perusahaan tergantung pada kemampuan manajemen dalam melaksanakan fungsi-fungsinya serta dalam melihat kemungkinan dimasa yang akan datang. Untuk itu manajemen dalam kegiatannya harus dapat merencanakan tujuan dan kegiatan dalam mencapai tujuannya tersebut. Hal ini tentunya selaras dengan fungsi pokok manajemen yaitu planning. Perencanaan ini penting bagi masa depan perusahaan baik untuk memperoleh protective benefit maupun positive benefit.
Kemampuan untuk mencapai laba yang optimal dapat ditentukan oleh manajemen yang baik terutama dalam perencanaan laba. Perencanaan laba yang baik akan mempengaruhi keberhasilan perusahan dalam memperoleh laba yang optimal.
Dalam perencanaan laba ini, harus diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi laba yaitu biaya, harga jual dan volume penjualan. Biaya memiliki implikasi bagi penentuan harga jual untuk mencapai laba yang dikehendaki. Kemudian harga jual ini mempengaruhi volume penjualan dan selanjutnya volume penjualan ini akan mempengaruhi volume produksi seperti siklus, volume produksi ini pun nantinya akan mempengaruhi biaya produksi dan seterusnya.
Untuk itu dalam penyusunan perencanaan laba, manajemen memerlukan berbagai informasi untuk menilai berbagai kemungkinan dan alternatif-alternatif keputusan dengan memperhatikan pengaruh dari keputusan yang akan diambil tersebut. Salah satu alat yang dapat digunakan manajemen dalam hal ini adalah analisis Break Even Point.
Tertarik dengan masalah diatas dan terdorong untuk mengetahui lebih jelas tentang analisis Break Even Point dalam penyusunan perencanaan laba perusahaan, maka penulis akan mencoba melakukan penelitian terhadap salah satu usaha penjualan Air Minum Isi Ulang sebagai usaha home industry yang menjadi objek penelitian. Dalam penulisan ini penulis mengangkat judul “ ANALISIS BREAK EVEN POINT DALAM PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PADA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG ”.
I.B. Rumusan dan Batasan Masalah
Dari permasalahan yang akan diangkat, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perhitungan analisis Break Even Point pada usaha Air Minum Kemasan Isi Ulang Galon dengan menggunakan pendekatan persamaan dan grafis?
Sedangkan penulis akan membatasi masalah dengan hanya menggunakan data produksi dan penjualan serta biaya-biaya yang terjadi dalam usaha depot air minum isi ulang selama bulan desember 2010. Produk yang akan diteliti adalah Air minum kemasan isi ulang gallon dan analisis yang akan digunakan adalah analisis Break Even Point dengan pendekatan persamaan dan pendekatan grafis
I.C. Tujuan Penelitian
Dengan mengacu terhadap rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui perhitungan analisis Break Even Point dan penjualan Air Minum Isi Ulang Gallon pada saat kondisi Break Even Point.
2. Untuk mengetahui volume penjualan yang harus dicapai oleh Usaha Air Minum Isi Ulang Gallon tersebut untuk mencapai laba yang ditargetkan.
I.D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa manfaat yang hendak diperoleh yaitu diantaranya :

1. Manfaat yang bagi penulis
Penelitian ini memberikan manfaat bagi penulis yaitu menambah pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana berpikir ilmiah. Selain itu penelitian ini juga memberikan pengetahuan bagi penulis tentang bagaimana menerapkan teori mengenai Break Even Point ini kedalam praktek di lapangan dalam hal ini adalah di sebuah usaha Penjualan Air Minum Siap Saji kemasan Gallon
2. Manfaat bagi perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa informasi bagi konveksi dalam hal ini mengenai volume penjualan yang harus dipertahankan oleh konveksi agar tidak menderita rugi dan berada pada titik impas serta volume penjualan untuk memperoleh laba yang direncanakan dengan perhitungannya.
3. Manfaat akademik
Penelitian ini dapat digunakan sebagai alat pembanding dan pembantu bagi penelitian sejenis dimasa yang akan datang atau juga dapat diteliti lebih lanjut. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi –informasi bagi keperluan studi lain dalam dunia akademis terutama bagi praktek dan pemanfaatan analisis Break Even Point dalam proses produksi nyata.



BAB II
LANDASAN TEORETIS

A Teori Yang Melandasi Permasalahan

1 Pengertian Break even Point

Banyak para ahli berpendapat tentang penertian Brea Even Point ( Titik Impas ), dimana pengertian satu dengan yang lain berbeda, tetapi pada prinsipnya mempunyai konsep dasar yang sama.
Menurut, Alwi ( 1994 : 265 ), menyatakan bahwa BEP adalah suatu keadaan dimana dalam operasi perusahaan, perusahaan itu tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian ( penghasilan = total biaya ).
Menurut Mulyadi ( 1992 : 72)menyatakan bahwa Impas adalah suatu keadaan dimana suatu usaha tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian, dengan kata lain suatu usaha dikatakan Impas apabila jumlah penghasilan sama dengan biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutupi biaya tetap saja.
Menurut Hansen dan Mowen ( 1904 : 309 ) menyatakan “ break Even Analysis is a popular and commonly used tool for analyzing the relationship between sales volume and prfitabiliy”.
Anallisis break even bukan semata-mata untuk mengetahui keadaan perusahaan yang break even point saja, tetapi analisis BEP mampu memberikan informasi kepada pimpinan perusahaan mengenai berbagai tingkat volume penjualan serta hubungannya kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.
Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perushaan dikaatakan mencapai break even point apabila dalam suatu periode kerja tidak memperoleh laba tetapi juga tidak menderita kerugian dimana laba adalah nol. Jadi dapat dikatakan break even point hubungan antara volume penjualan, biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada tingkat penjualan tertentu, sehingga analisis break even point ini sering disebut dengan cost, volume, profit analisis.
Selain itu Analisis Break Even Point sangat berguna untuk menentukan kebijaksanaan dalam perusahaan, baik perusahaan yang sudah maju maupun perusahaan yang baru mengadakan perencanaan.
2. Unsur-Unsur Pokok Dalam Break Even Point
Analisis unsur-unsur yang mempengaruhi break even point yaitu Biaya, Volume, Harga, harga jual serta laba itu sendiri. Didalam pengertian biaya dan beban didalam bahasa Indonesia belum dibedakan dengan tepat. Sering kali istilah cost digunakan secara sinonim dengan istilah Expense.
Mulyadi membedakan antara cost dan expense sebagai berikut :
Cost adalah bagian dari harga perolehan tahun harga belli aktiva yang ditunda pembebanannya atau belum di manfaatkan dalam hubungannya realisasi penghasilan. Sedangkan expense adalah cost yang di korbankan didalam usaha memperoleh penghasilan.
Volume yang terdapat dalam analisis BEP adalah jumlah unit produksi atau jumlah unit penjualan.
Harga jual perunit adalah sejumlah uang yang diterima atau piutang yang timbul atas penyerahan barang dan jasa kepada setiap consume dalam setiap unitnya. Harga jual bisa berupa harga jual bersih atau bisa harga jual kotor. Sedangkan yang digunakan dalam analisis BEP adalah harga jual bersih yang terlepas dari berbagai potongan.
Laba adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan, dimana keuntungan ini berasal dari penghasilan setelah dikurangi biaya.
Alwi (1994: 267) menyatakan : variable-variabel yang membentuk BEP adalah harga jual dan biaya ( biaya tetap dan Biaya variable ). Kedua variable itu saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, perubahan salah satu variable yang dimaksud mengakibatkan perubahan besarnya titik Break Even Point.
2.1 Harga Jual
Pengertian Harga Jual menurut Kotler ( 1994 : 474 ) adalah sebagai berikut : “ Price is what the seller feel it is worth in terms of money to the buyer”. Dimana pengertianya adalah harga bagi penjual merupakan suatu nilai dalam uang yang ditawarkan pada pembeli. Jadi dapat disimpulkan dari pengertian di atas bahwa harga yang di bayar oleh pembeli sudah termasuk pelayanan yang di berikan oleh penjual, serta penjual juga menginginkan sejumlah keuntungan dari harga tersebut.
Adapun tujuan dari penetapan harga menurut Kotler ( 1994 : 491-493 ) adalah :
(1). Survival, (2) Maximum current profit, (3) Maximum current revenue, (4) maximum seles growth, (5) Maximum market skimming, (6)Product quality leadership.
Penetapan harga jual dari suatu produk amatlah penting, kesalahan dalam menetapkan harga akan berakibat fatal dari segi ke uangan dan akan mempengaruhi kontinuitan usaha.
Ada beberapa metode yang biasanya digunakan dalam menetapkan harga menurut kotler (1994 : 498-506 ), yaitu:
1. Cost based pricing
a. Mark up Pricing ( cost plus pricing ), adalah : penetapkan harga jual dengan menambah tingkat keuntungan pada biaya-biaya yang telah dibebankan pada barang.
b.Target profit pricing adalah Penetapan harga jual yang didasarkan atas permintaan.
2. Buyer based pricing,
adalah penetapan harga jual berdasarkan nilai / citra yang dirasakan konsumen terhadap produk.
3. Competition based pricing
a).Going rate pricing : adalah penetapan harga jual menurut situasi yang ditetapkan oleh pesaing.
b).Sealed – bid pricing: adalah penetapan harga jual dalam situasi dimana perusahaan bersaing dengan cara menetapkan harga jual lebih rendah dari harga yang ditetapkan pesaing.
Alwi ( 1994 : 234 ) menyatakan bahwa harga jual suatu produk pada umumnya adalah kumpulan dari biaya produksi, biaya penjualan, dan biaya-biaya lain ditambah dengan sejumlah keuntungan yang diinginkan produsen yang ditawarkan pada konsumen. Sedang masing-masing biaya tersebut mempunyai berbagai karakter yang berbeda antara biaya yang satu dengan biaya yang lain. Seperti halnya biaya tetap mempunyai karakteristik yang berbeda dengan biaya variable.
2.2 Biaya
Menurut Awi ( 1994 : 44 ) menyatakan biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis. Sumber ekonomis yang dimaksudkan adalah suatu sumber yang memiliki adanya sifat kelangkaan ( scarcity ).
Masing-masing biaya mempunyai perbedaan antara biaya yang satu dengan yang lain. Masing-masing perbedaan itu juga tergantung dari sudut pandangnya masing-masing. Namun terkait dengan Break even Point klasifikasi dari biaya yang dimaksudkan yaitu berdasarkan sifatnya. Halim (1995: 52 ) menyatakan bahwa : “ Biaya berdasarkan sifatnya terdiri dari biaya tetap, biaya variable dan biaya semi variable”.
a). Biaya Tetap
Menurut Alwi ( 1994 : 110 ) menyatakan bahwa biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan yang tidak berpengaruh dengan volume produksi . atau dengan kata lain turun naiknya volume produksi tidak mempengaruhi besarnya biaya yang di maksud. Untuk itu karateristik biaya tetap adalah sebagai berikut:
· Jumlahnya tetap dalam satu periode
· Biaya perunit berbanding terbalik dengan jumlah produksi, dalam arti semakin besar jumlah produksi, maka biaya ttap perunit semakin kecil demikian juga berlaku sebaliknya.
b). Biaya Variable
Alwi ( 1994 : 112 ) menyatakan bahwa variable merupakan sejumlah biaya yang di keluarkan yang besarnya tertergantung volume produksi, semakin besar volume produksi akan di ikuti melonjaknya biya tersebut dan demikian sebaliknya. Dengan demikian karateristik biaya variable antara lain:
· Jumlahnya berfluktuasi berdasarkan volume produksi.
· Biaya variable per unit relative tetap sering dengan bertambahnya volume produksi, tetapi secara keseluruhan total biaya variable berbanding lurus dengan jumlah produksi, dimana semakin besar total biaya variable jumlah produksi semakin besar pula.
c). Biaya Semi Variable
Alwi ( 1994 : 114 ) menyatakan bahwa biaya semi variable yaitu biaya yang merupakan kombinasi antara biaya tetap dengan biaya variable. Seperti halnya upah karyawan yang didalamnya termasuk upah tetap dan insetive karyawan.
3. Keterbatasan Analisis Break Even Point
Bebrapa ahli mengungkapkan tetang keterbatasan penggunaan analisis Break Even Point, diantaranya menurut Horngren yang mengemukakan ssebagai berikut:
a). Expenses may be classified variable and fixed categories. Total variable expenses very directly with volume. Total fixed espense do not change with volume.
b). The behavior of revenues and expeses is accurately potrayed and is linear over the relevant range.
c). Eficiency and productifity will be unchanged.
d). Sales mix will be constant.
Menurut Sofyan Syafri Harahap ( 1997 : 364 ) mengungkapkan bahwa terdapat kelemahan-kelemahan di dalam analisis BEP antara lain:
a). Asumsi yang menyebutkan harga jual konstan padahal kenyataannya harga ini kadang-kadang harus berubah sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran di pasar.
b). Asumsi terhadap cost
penggolongan biaya tetap dan biaya variable juga mengandung kelemahan. Dalam keadaan tertentu untuk memenuhi volume penjualan biaya tetap tidak bisa tidak harus berubah karena pembelian mesin-mesin dan peralatan lainnya. Dengan demikian juga perhitungan biaya variable perunit juga akan dapat di pengaruhi perubahan ini.
c). Biaya tetap juga tidak selalu tetap pada berbagai kapasitas.
d). biaya variable juga tidak selalu berubah sejajar dengan perubahan volume.
4. Perhitungan Dalam Analisis Break Even Point
Alwi ( 1994 : 269 ) menyatakan bahwa terdapat berbagai macam cara untuk menentukan besarnya Brea Even Point, antara lain dengan menggunakan teknik persamaan dan pendekatan grafik.
a). Teknik Persamaan
penentuan besarnya Break Even Point menggunakan teknik persamaan dengan menggunakan rumus sbb:
Y = Cx – Bx – A
Keterangan :
Y = Laba
C = Harga jual per unit
X = Jumlah produk yang dijual
B = Biaya variable per unit
A = Biaya tetap
Berdasarkan definisi di atas suatu perusahaan akan impas apabila jumlah penghasilan sama dengan jumlah biaya ( laba = 0 ). Berangkat dari rumus persamaan yang telah diungkapkan tersebut dengan menggunakan pengolahan rumus yang dimaksud, maka akan di peroleh persamaan sebagai berikut:
                   0   =  Cx – Bx – A
                   Cx =  Bx + A
Berdasarkan persamaan tersebut, dengan melalui berbagai penyelesaian persamaan akan di peroleh rumus turunan sebagai berikut :
Cx = Bx + A
Cx – Bx = A
( C-B ) x = A
Sebagai penyelesaian persamaan di atas, diperoleh rumus lebih lanjut sebagai berikut :
                 A
X   = ( BEP)     =
               C-B
                              


Keterangan :
                              Cx = Bx + A………Hasil penjualan = Biaya
                              Cx - Bx = A………Contribution Margin = Biaya
Ax    =    C-B




Dengan demikian, rumus Break Even Poit yang didapat dari berbagai persamaan tersebut adalah sebagai berikut :

                      Biaya Tetap
BEP (unit ) =
Harga jual per unit – Biaya variable per unit

Dalam rumus Break Even Point dalam rupiah menurut Alwi ( 1994 : 274 ) adalah sbb:

                  Biaya Tetap
BEP ( Rp ) =
                              1-( Tt penj-Biaya variable)  

b), Pendekatan grafika
Alwi ( 1994 : 276 ) menyatakan bahwa : “ selain dengan teknik persamaan dapat juga di gunakan pendekatan secara grafika, yaitu dengan penentuan titik pertemuan antara garis penghasilan dengan garis biaya didalam suatu grafika “. Titik pertemuan antara garis penghasilan dengan garis biaya tersebut merupakan titik Break Even Point. Untuk dapat menentukan titik BEP harus dibuat grafik dengan sumbu datar menunjukan volume penjualan, sedangkan sumbu tegak menunjukan biaya dan penghasilan.
5. Margin of Safety
Alwi ( 1994 : 278 ) menyatakan :” Margin of safety yaitu untuk menentukan seberapa jauh berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita kerugian “. Atau dengan kata lain margin of safety memberikan informasi sampai seberapa jauh volume penjualan yang di rencanakan tersebut boleh turun agar supaya perusahaan tidak menderita kerugian.
            Penjualan per budget – penjualan per Break Even
            M / S x 100 % Penjualan per budget
6. Asumsi Dasar Break Even Point
Terkait dengan masalah - masalah asumsi dasar BEP, Reiyanto ( 1991 : 279 ) mengemukakan :
Asumsi asumsi dasar Break Even Point adalah sebagai beikut :
a. Biaya dalam perusahaan dibagi dalam golongan biaya variable dengan golongan biaya tetap.
b. Besarnya biaya variable secara totalitas berubah-ubah secara proposional dengan volume penjualan produksi / penjualan.
c. Berdasarkan biaya tetap secara totalitas tidak berubah meskipun ada perubahan volume produksi.
d. Harga per unit tidak berubah selama periode yang di analisis.
e. Prusahaan hanya memproduksi satu macam produk. Apabila diproduksi lebih dari satu macam produk, perimbangan penghasilan penjualan antara masing-masing produk atau “ Sales Mix “ –nya adalah tetap konstan.
7. Kegunaan Analisis Break Even Point
Analisis break Even Point dapat digunakan untuk berbagai tujuan terutama bagi perusahaan yang sedang menyusun perencanaan. Disamping itu juga dapat di gunakan sebagai alat pengendalian waktu perusahaan masih dalam kegiatan sebelum berakhirnya suatu periode.
Menurut Adikoesoemah ( 1996 : 359 ) mengemukakan bahwa analisa Break Even Point digunakan oleh perusahaan- perusahaan dengan tujuan untuk :
a. Mengevaluasi tujuan laba dari perusahaan secara keseluruhan
b. Menyajikan data biaya dan laba kepada top management, yang di pereelukaan untuk mengambil keputusan dan merumuskan kebijakan-kebijakan.
c. Mengganti sistim laporan yang tebal-tebal dengan sutu grafik yang mudah di baca dan di mengerti.
Sedangkan menurut Sigit ( 1996 : 3 ) juga menyatakan tentang berbagai kegunaan analisis BEP adalah sebagai berikut:
1. Sebagai alat untuk merencanakan laba
2. Sebagai alat untuk perencanaan budget.
3. Sebagai penentu harga jual produk
4. Sebagai dasar menentukan harga jual produk
5. Sebagai dasar rencana pengembangan
6. Saebagai dasar pengambilan keputusan
Dari beberapa urain tersebut tentang Break Even Point, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kegunaan analisis Break Even Point antara lain:
a. Analisis Break Even Point dapat di pakai sebagai alat pemberi informasikepada manajemen secara sederhana dan singkat
b. Analisis Break Even Point dapat di gunakan sebagai alat pedoman dalam mengambil keputusan terutama yang menyangkut biaya, pendapatan, dan perencanaan biaya
c. Analisis Break Even Point dapat pula memberikan gambaran tentang biaya dan hasil produknya yang diharapkan secara menyeluruh didalam aktivitas utama perusahaan di masa mendatang
d. Analisis Break Even Point dapat digunakan sebagai landasan untuk mengendalikan kegiatan oprasional yang sedang berjalan, yaitu sebagai sarana untuk antara relisasi dengan perhitungan dengan berdasarkan analisa break even point sebagai alat pengendali atau controlling.
e. Analisis Break Even Point dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual, yaitu setelah di ketahui hasil-hasil perhitungan menurut analisa break even point dan laba yang ditargetkan.


BAB III
METHODOLOGI
A. Methodologi Penelitian
1 Definifi Break Even Point
a) BEP adalah suatu keadaan dimana dalam operasi perusahaan, perusahaan itu tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian ( penghasilan = total biaya ).
b) Break Even Analysis is a popular and commonly used tool for analyzing the relationship between sales volume and prfitabiliy”.
c) Impas adalah suatu keadaan dimana suatu usaha tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian
d) Volume yang terdapat dalam analisis BEP adalah jumlah unit produksi atau jumlah unit penjualan.
e) Harga jual perunit adalah sejumlah uang yang diterima atau piutang yang timbul atas penyerahan barang dan jasa kepada setiap consume dalam setiap unitnya
f) Laba adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan, dimana keuntungan ini berasal dari penghasilan setelah dikurangi biaya.
B. Ruang lingkup penelitian
Adapun ruang lingkup penelitian mencakup tentang analisis Break Even Point dalam upaya keadaan usaha ketika tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi pada usaha Depot Air Minum Isi ulang
C. Jenis Data
1. Data Kuantitatif adalah data yang dapat di hitung dan berupa angka-angka seperti laba, volume penjualan, biaya tetap, biaya variable , harga produk.
2. Data kualitatif adalah data yang tidak berupa angka seperti berdirinya perusahaan, proses kegiatan usaha.
D. Sumber Data
a) Data Skunder
Informasi yang di peroleh langsung data dari pemilik usaha depot Air Minum Isi ulang dan tenaga kerja lainnya yang di tunjuk oleh pemilik usaha untuk membeerikan informasi tentang informasi hal-hal yang dibutuhkan dalam penelitian ini
b) Data Primer
Data yang bukan diusahakan sendiri oleh penelitian melainkan diperoleh melalui penelitian orang lain, tetapi data tersebut sangat mendukung permasalahanyang diajukan dalam penelitian ini, yaitu data mengenai sejarah perusahaan, struktur organisasi dan aktivitas perusahaan.
E. Methode Pengumpulan Data
                 Adapun metode pengumpulan data yang umumnya di pergunakan dalam penelitian adalah :
1. Wawancara
        Teknik pengumpulan data dengan menggunakan komonikasi langsung dengan pimpinan perusahaan dan tenaga kerja perusahaan depot Air Minum Isi Ulang yang berkopentens terhadap masalah yang di teliti dalam penelitian ini
2. Observasi
         Dengan mengadakan pengamatan langsung ke lokasi penelitian, gguna mendapatkan informasi yang akurat tentang masalah yang ada diperusahaan tempat penelitian.
3. Dokumentasi
        Teknik pengumpulan data dengan melihat dokumen- dokumen resmi perushaan, seperti arsip-arsip yang sangat berhubungan dengan masalah penelitian
F. Teknik Analisa Data
Data-data yang diproleh sedapat mungkin dianalisis secara kualitatif juga di analisis secara kuantitatif.teknik analisis yang dapat digunakan untuk memberikan informasi dalam analisis data yaitu:
1. Data Kuantitatif.
a) Teknik Persamaan
    Penentuan besarnya Break Even Point menggunakan teknik persamaan dengan menggunakan rumus sbb:
       Rumus Break Even Poit yang didapat dalam unit dari berbagai persamaan tersebut adalah sebagai berikut :
                   Biaya Tetap
BEP (unit ) =
Harga jual per unit – Biaya variable per unit

Dalam rumus Break Even Point dalam rupiah menurut Alwi ( 1994 : 274 ) adalah sbb:

         Biaya Tetap
BEP ( Rp ) =
                        1-(Ttl Penj - Biaya variable)
b), Pendekatan grafis
Selain dengan teknik persamaan dapat juga di gunakan pendekatan secara grafika, yaitu dengan penentuan titik pertemuan antara garis penghasilan dengan garis biaya didalam suatu grafika . Titik pertemuan antara garis penghasilan dengan garis biaya tersebut merupakan titik Break Even Point.
2. Data Kualitatif
Analisa kualitatif yaitu analisa data yang dipergunakan untu menjelaskan informasi dari hasil analisa kualitatif secara memperkuat kesimpulan-kesimpulan yang digunakan dari analisis kuantitatif. Dengan demikian analisa ini berupa penjelasan-penjelasan yang tidak berbentuk angka-angka.


BAB IV
PEMBAHASAN
A. Perhitungan Break Even Point dalam Pendekatan Teknik Persamaan

Untuk dapat melakukan perhitungan Break Even Point pemilik usaha memberikan sajian data-data yang dapat digunakan dalam melakukan analisis, adapun data–data tersebut yakni sebagai berikut.
Target penjualan atau proyeksi Volume penjualan di perkirakan enam bulan terakhir sebagai berikut:
Bulan
Permintaan Galon
Total
Perumahan
Proyek
Juli
4503
2250
6753
Agustus
4512
2050
6562
September
4601
2350
6951
Oktober
4930
2300
7230
November
5253
2250
7503
Desember
5526
2275
7801
Modal awal
Mesin penyaringan air dan Peralatan        Rp. 33.000.000
Sewa Gedung Usaha setahun                   Rp. 6.000.000

Harga pokok 1 galon air                           Rp. 700
Tutup                                                      Rp. 175
Tisu                                                         Rp. 75
Pencuci gallon                                          Rp.  100
                                                                     1050
Laba / Rugi yang di proyeksikan untuk satu bulan terakhir adalah sebagai berikut:
Jumlah %
Penjualan                                          2500 x 7801     =                           19.502.500

Biaya Variabel
Harga Pokok produk                           1050 x 7801     =   8.191.050
Insetive 2 Karyawan                           2 x 200 x 7801 =   3.120.400
Bahan Bakar                                      340 x 7801       =   2.652.340
Jumlah                                                                                                    13.963.790 
Margin Kontribusi                                                                                     5.538.710 

Biaya Tetap
Sewa Gedung                                        6.000.000 / 12 = 500.000
Upah 2 Karyawan                                                           900.000
Biaya listrik                                                                    200.000
Jumlah                                                                                                     1.600.000
Laba Usaha                                                                                             3.938.710


B. Analisis Data
                             Biaya Tetap
BEP ( Rp ) =
                    1-  ( ttl Penj-Biaya variable )

                                  1.600.000 
BEP ( Rp ) =                                                    
                         1- (19.502.500 - 13.963.790 )

BEP (Rp)   = Rp 5.633.802.8

                                     Biaya Tetap
BEP (unit ) =
                   Harga jual per unit – Biaya variable per unit

                                     1.600.000 
BEP(unit) = 
                             2.500 – 1.790 

BEP(unit) =    2.253 unit

B.1 Uji Analisis
Pendapatan Penjualan 2.253 x 2.500 =     5.632.500
Biaya Variabel 2.253 x 1.790 =                4.032.870
Laba Kontribusi                                   1.599.630
Biaya Tetap                                            1.600.000
Laba Bersih                                          Rp 370
C. Perhitungan Analisis Break Even Point dalam pendekatan metode Grafis
Pendapatan penjualan = cx
Biaya variable = bx
Biaya Tetap = ą
Harga jual produk per satuan ( c ) = 2.500
Biaya Variabel per satuan ( b ) = 1.790
Biaya tetap per bulan ( ą ) = 1.600.000
Volume
Pnjualan
Pendapatan
penjualan
Biaya
Variabel
Biaya
Tetap
Total
Biaya
Laba
(rugi)
x
cx
bx
ą
ą + bx
cx-( ą+bx)
3000
2500
2253
2000
1500
1000
7500000
6500000
5632500
5000000
3000000
2500000
5370000
4475000
4032870
3580000
2685000
1790000
1600000
1600000
1600000
1600000
1600000
1600000
6970000
6075000
5632870
5180000
4285000
3390000
Rp 530.000
Rp 425.000
Rp (370)
Rp (.180.000.)
Rp(.1.285.000.)
Rp(.890.000.)

GarisBiaya Tetap




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar